Tag Archive for Belitung Timur

Jelajah Negeri Laskar Pelangi (Day 1)

Percik Keluarga, Bekasi - Jujur, setiap kali ingin menulis cerita perjalanan ini, Bunda selalu ingat cerita duka ini. Sedih dan kehilangan, itulah yang dirasa. Tapi, namanya hidup – pasti ada kelahiran dan kematian. Life must go on. Ok, lupakan sejenak dan tetap fokus pada kisah perjalanan Bunda bersama para sahabat ke Negeri Laskar Pelangi, Belitung.

9 Juni 2012
Bunda bangun sekitar pukul satu dini hari dan bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng dengan menggunakan Damri. Ini merupakan perjalanan terpagi kedua bagi Bunda setelah perjalanan ke Wonogiri. Bunda merupakan orang pertama yang tiba di Terminal 1B dan penerbangan ke Tanjung Pandan menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Oh ya, ini merupakan trip pertama Bunda bersama Angelina dan Niniek, serta trip kedua Bunda bersama Hanantiwi dan Merliyani.

Belitung 1 - a

Penerbangan dari Jakarta ke Tanjung Pandan sekitar 60 menit dan tidak ada perbedaan waktu. Sebelum mendarat di bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, tampak pemandangan luar biasa, dari atas terlihat hamparan sisa tambang kaolin yang berwana putih. Tiba di bandara, Bunda kaget karena bandara tersebut terbilang kecil. Tambah kaget, karena Bunda dan tim bisa berfoto ria dengan waktu yang relatif lebih lama dibanding dengan bandara lain.

#1 Jembatan Syuting Laskar Pelangi
Setelah meninggalkan Bandara HAS Hanandjoeddin, mobil sewaan seharga Rp 350.000,- plus bensin Rp 100.000,- pun menuju Belitung Timur. Sepanjang jalan, Bunda disuguhi pemandangan perkebunan sawit dan sunyi senyap. Bunda tak mendapati angkutan umum yang berlalu-lalang – hanya ada motor dan sepeda. Tiba di tengah perjalanan, Bunda dan tim pun sempat berpose terlebih dahulu di salah satu jembatan yang dilewati Ikal ketika syuting film Laskar Pelangi. Tak ingin membuang kesempatan, kami pun berpose ria sambil clingak-clinguk, takut ada kendaraan yang melintas dari belakang.

Belitung 1 - aa

#2 SD Muhammadiyah
Tak lama, Bunda pun tiba di replika SD Muhammadiyah, Gantong. Ini merupakan bangunan yang dibuat dalam rangka syuting film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata. Kian eksotis karena “SD Laskar Pelangi” ini terletak di atas bukit pasir putih serta beberapa kayu yang terlihat lapuk, atap yang bocor, dan dinding kayu yang bolong. Meskipun demikian, replika SD Muhammadiyah menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ke Belitung.

Belitung 1 - b

#3 Pasar Tradisional
Sebelum sampai di Bendungan Pice, mampir dulu ke pasar tradisional. Pada spot ini, Niniek dan Hanantiwi yang antusias menjelajah bagian dalam pasar tradisional. Sementara Bunda, Merli, dan Ina hanya menunggu di salah satu pertokoan yang ada di pinggir jalan. Berdasarkan informasi dari Pak Supir, diantara deretan pertokoan tersebut, salah satunya digunakan untuk syuting Laskar Pelangi, yakni adegan Ikal membeli kapur di Manggar.

Belitung 1 - c

#4 Bendungan Pice
Bendungan Pice merupakan bangunan peninggalan Belanda yang terletak dibagian hulu sungai Lenggang. Panjang dari bendungan ini tak kurang dari 50 meter dan dibangun pada 1936-1939. Bendungan ini menjadi ikon Desa Gantung, tapi karena ada dalam film Laskar Pelangi, jadilah banyak wisatawan yang singgah sebentar dan menikmati air kelapa yang dijajakan di pinggiran bendungan tersebut. Sayang, Bunda tidak sempat merasakan segarnya air kelapa dengan pemandangan Bendungan Pice ?

Belitung 1 - d

#5 Kantor Bupati Belitung Timur
Entah mengapa, Bunda sangat tertarik untuk mengabadikan foto di depan Kantor Bupati Belitung Timur ini. Jalanan yang luas dan sepi, menjadikan kantor bupati ini menjadi titik yang bagus untuk berfoto. Mungkin, inilah kelebihannya menyusun jadwal trip mandiri tanpa gabung dengan agen perjalanan, bisa singgah dimana saja, termasuk ini.

Belitung 1 - e

#6 Restoran Seafood
Mampir di salah satu restoran seafood yang ada di wilayah Manggar – lupa nama restorannya. Pastinya, restoran ini menyajikan aneka menu yang beragam dan dengan harga yang terjangkau, tetap dengan rasa yang mumpuni. Tak hanya itu, dengan dekorasi yang mirip kapal laut, menjadikan resto ini memiliki nilai plus. Buktinya, Bunda punya foto ini. Keren ya, mirip di kapal laut yang tengah berlabuh.

Belitung 1 - f

#7 Bukit Samak A1
Karena perjalanan ini sifatnya “kejar tayang” maka Bunda tak sempat “ngopi cantik” di Manggar yang terkenal dengan Kota 1001 Warung Kopi. Ditambah, diantara kami tak begitu hobi ngopi, jadi terpaksa di-skip. Perjalanan pun dilanjutkan ke Bukit Semak/ A1 yang terletak di Desa Lalang. Dulunya,ini merupakan perumahan elit kaum Belanda dan petinggi PT Timah. Sekarang, hanya ada dua rumah di Bukit Samak yang menjadi rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Manggar. Di puncak bukit, terdapat penginapan dan restoran yang menghadap laut. Bukit Samak juga menjadi tempat nongkrong yang terkenal bagi pemuda Kabupaten Manggar.

Belitung 1 - g

#8 Vihara Dewi Kwan Im
Vihara Dewi Kwan Im merupakan tempat ibadah bagi umat Budha di Belitung dan menjadi salah satu tempat wisata. Letaknya tak jauh dari objek wisata Pantai Burung Mandi, yakni di Desa Burung Mandi, Kecamatan Kampit, Belitung Timur. Salah satu yang bisa dicoba di vihara ini adalah mencoba peruntungan dengan meminta untuk diramal oleh juru kunci vihara. Sayang, Merliyani dan Angelina yang tertarik pada ramalan, pun harus melewati kesempatan tersebut. Kan, vihara yang ada di Jakarta juga bisa, say – jadi lanjut ke spot berikutnya ya! ?

Belitung 1 - h

#9 Pantai Burung Mandi

Puas di Vihara Dewi Kwan Im, Bunda pun singgah sejenak di Pantai Burung Mandi, yakni pantai berpasir putih sepanjang pantai dan jajaran pohon pinus laut yang menjadi pembatas. Katanya, Pantai Burung Mandi sangat tepat jika dikunjungi pada pagi hari karena ini merupakan titik yang bagus untuk melihat sunrise. Masalahnya, ini menjadi tidak mungkin karena di sekitar pantai tersebut tidak ada tempat penginapan – kota terdekat adalah Manggar dengan jarak 18km. Jadi, menikmati sore pun tak mengurangi pesona pantai ini kok.

Belitung 1 - i

#10 Danau Kaolin
Sejak dijadikan latar dalam film Laskar Pelangi, Belitung langsung terkenal. Tak hanya pantainya yang masih sempurna, terdapat juga sebuah danau dengan undukan tanah putih dan air berwarna biru. Semakin biru langit maka semakin indah Danau Kaolin, begitu sebutannya. Dulu, danau ini digunakan sebagai tempat penambangan kaolin – yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat Belitung. Sepertinya, sampai saat ini pun masih. Nah, akibat aktivitas penambangan tersebut, kini terdapat danau kaolin di beberapa tempat, bahkan jumlahnya pun sangat banyak.

Belitung 1 - j

#11 Pantai Tanjung Pendam
Lanjut ke Pantai Tanjung Pendam yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya. Di sekitar Pantai Tanjung Pendam, ada beberapa bangunan peninggalan jaman Belanda. Sepertinya, gedung kuno tersebut masih digunakan – entah digunakan untuk apa. Tak heran jika, Pantai Tanjung Pendam sangat ramai dikunjungi masyarakat lokal karena letaknya yang strategis di tengah kota, pantai seluas 22Ha ini menyediakan berbagai fasilitas umum, seperti kafe, taman bermain, bahkan ada panggung terbuka – mirip Ancol, Jakarta.

Belitung 1 - k

Pantai ini berada di pusat kota Tanjung Pandan – tidak jauh dari Masjid Al Ihram dan Eks Rumah Tuan Kuase. Pantai ini menjadi tempat wisata bagi penduduk lokal, tak hanya hari libur saja. Tidak seperti Pantai Burung Mandi, untuk memasuki area Pantai Tanjung Pendam dikenakan biaya masuk Rp 2.000,- per orang. Sayang, kondisi cuaca yang gerimis menjadikan sunset tak muncul kala itu.

Petualangan di Negeri Laskar Pelangi pun ditutup dengan shalat magrib di Masjid Al Ihram, menyantap mie khas Belitung, dan pastinya belanja oleh-oleh serta kaus wajib bagi Luna – sebelum sampai di penginapan Kelayang Beach Cottages. Cerita yang panjang ya, sepanjang perjalanan Bunda hari ini. Kebayang dong bagaimana “perawan”-nya Belitung? Dalam satu hari saja, mampu menjangkau 11 titik wisata. Artinya, Belitung tak kenal macet!.

Foto: Hasil comot sana-sini dari hasil jepretan yang ada di kamera Bunda, Hanantiwi, dan Merliyani. Sedangkan cerita Belitung versi lain, bisa dilihat di sini dan sini.